Stop Paksa Anak Kuliah di Kedokteran atau Kedokteran Gigi!

Sebaiknya sekolah di Kedokteran atau Kedokteran Gigi sesuai dengan cita-cita, minat, dan bakat (sumber gambar: pendidikankedokteran.net)

Oleh: drg. Gelar S. Ramdhani

Tidak perlu heran apabila saat ini banyak sekali masyarakat Indonesia yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah kedokteran atau kedokteran gigi. Mungkin salah satu alasannya karena sebagian besar masyarakat kita masih menganggap profesi Dokter dan Dokter Gigi sebagai salah satu profesi yang sangat berkelas, dan (katanya) mudah mendapatkan pekerjaan. Padahal kalau menurut saya, berkelas atau tidaknya seseorang bukan dilihat dari profesinya, melainkan dari budi pekertinya. Profesinya bagus, tapi budi pekertinya jelek, ya tidak ada artinya!.

Tidak jarang saya bertemu dengan mahasiswa kedokteran atau kedokteran gigi, yang katanya dipaksa oleh orang tuanya agar mau sekolah di Fakultas Kedokteran (FK) atau Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), padahal dirinya sama sekali tidak ada cita-cita, tidak ada bakat, bahkan tidak ada minat sedikitpun untuk jadi dokter atau dokter gigi. Hal seperti ini mohon menjadi perhatian orang tua, kenapa?.

Saya yakin setiap orang tua memiliki keinginan agar anaknya sukses, saya juga punya anak, saya ingin anak saya jauh lebih sukses daripada saya. Memang betul bahwa kita sebagai orang tua punya hak untuk menentukan masa depan putra-putri kita. Tapi kita harus ingat, bahwa kita juga punya kewajiban untuk mendengarkan keinginan atau cita-cita putra-putri kita, serta punya kewajiban untuk mengetahui potensi atau minat bakat putra-putri kita.

Boleh kita selaku orang tua memiliki keinginan putra-putri kita menjadi dokter atau dokter gigi karena itu adalah cita-cita yang sangat mulia. Tapi, yuk tanya dulu anak kita, mau gak jadi dokter atau dokter gigi? kalau mau Alhamdulilah, berarti sesuai dengan keinginan kita selaku orang tua. Kalau tidak mau? tanya alasan kenapa tidak mau? coba ajak diskusi baik-baik dari hati ke hati, berikan waktu kepada anak kita untuk mempertimbangkan saran kita, kalau tetap tidak mau mohon tidak perlu dipaksa. Anak kita juga punya hak untuk menentukan masa depannya, hormati keinginan anak, ayo dukung cita-cita anak.

Memaksa anak untuk sekolah di kedokteran atau kedokteran gigi sangat tidak baik. Anda harus paham bahwa sekolah di kedokteran atau kedokteran gigi itu sangat tidak mudah, butuh waktu yang relatif lebih lama dari kuliah jurusan lain, butuh kesabaran, serta butuh mental yang tangguh. Satu lagi yang harus anda ketahui bahwa kuliah di kedokteran atau kedokteran gigi itu, kalau cuma modal pintar atau modal kaya doang, tidak menjamin bisa sukses!.

Sering saya menyaksikan rekan satu angkatan saya, kakak atau adik angkatan saya, yang mengikuti perkuliahan di kedokteran gigi penuh dengan tekanan, karena merasa jurusan kuliah yang dia ambil tidak sesuai dengan minat dan bakatnya, sekalinya ada masalah diperkuliahan (misal: nilai jelek) langsung down, curhat ke orang tua malah dimarahin atau semakin dipaksa, akhirnya ada yang sampai terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak diharapkan. Bahkan ada juga beberapa rekan saya yang sampai Drop Out (DO), biasanya yang di Drop Out (DO) ini karena melewati batas masa studi yang ditentukan, atau bisa juga karena perilaku yang kurang baik.

Mari kita bayangkan apabila anak kita selama proses perkuliahan tidak lancar, kuliah jarang masuk, nilai selalu jelek, bermasalah dengan dosen, bermasalah dengan teman, ikut-ikutan pergaulan tidak jelas, bahkan sampai Drop Out (DO) yang rugi siapa? bukankah kita selaku orang tua juga ikut rugi? bisa jadi bukan hanya rugi biaya, dan waktu saja, bahkan nama baik keluarga bisa juga ikut tercoreng. 

Menjadi dokter atau dokter gigi memang mulia, tapi menjadi dokter atau dokter gigi bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan, apalagi menuju kekayaan duniawi. Ingat jadi dokter atau dokter gigi itu bukan jalan terbaik mencari kekayaan, kalau mau kaya ya jadilah pengusaha!.

Menurut saya kuliah di jurusan apapun juga sama-sama bagus, apalagi jurusan kuliah yang diambil sesuai dengan cita-cita, minat, bakat, dan kemampuan. Pepatah mengatakan bahwa salah satu kunci sukses itu adalah "The right man, on the right place".

Kalau kita sudah terlanjur memaksa anak kuliah di kedokteran atau kedokteran gigi bagaimana? Saran saya, bantu anak anda bukan hanya dengan uang, bantu juga dengan doa yang tulus, jaga komunikasi yang baik, dengarkan dengan hati setiap keluh kesah yang dihadapi anak anda selama kuliah, bantu mencarikan solusi apabila anak anda mendapatkan kendala atau masalah, jangan terlalu sering memarahi anak, arahkan dengan baik apabila anak anda dirasa mulai "keluar jalur", hindari memanjakan anak dengan cara yang berlebihan, bangun motivasi yang positif (misal: "Ayo semangat nak, kelak kalau kamu jadi dokter kamu bisa banyak bantu orang lain"), dan jangan pernah lelah memberikan dorongan atau semangat kepada anak anda. Semoga sukses!

Simak pula tulisan Gelar S. Ramdhani lainnya klik disini
Apakah anda ingin mengetahui profil penulis tulisan ini? klik disini

Komentar

Tulisan paling populer

Kita Butuh Bus Bandung Majalengka yang Layak!

Rekomendasi Bus dari Jakarta ke Majalengka

Kisah Kang Ari Lolos Seleksi CPNS 2018