Postingan

Menampilkan postingan dengan label Radiologi Kedokteran Gigi

Gambaran Radiograf Kista Periapikal atau Kista Radikuler

Gambar
Gambaran Radiograf Kista Radikuler atau Kista Periapikal (sumber gambar : koleksi pribadi) GAMBARAN UMUM Secara umum kista dapat kita definisikan sebagai ruangan atau rongga patologis dengan isi cairan kental (semi liquid), cairan tersebut berasal dari sekresi sel-sel epitel rongga kista dan berasal dari rongga kista yang mengelilinginya. Klasifikasi kista berdasarkan pada lokasi, etiologi, dan patofisilogi.  Kista radikuler atau sering juga disebut kista periapikal, kista ini bisa  disebabkan karena adanya trauma fisik, kimia atau bakteri (biologi) kemudian terjadi nekrosis pulpa, selanjutnya hadir stimulasi sel sisa epitel malassaez pada ligamen periodontal, kemudian berproliferasi dan berkembang menjadi kista radikuler. Kista radikular sering terjadi pada tulang rahang, baik rahang atas maupun rahang bawah, prevalensi kista radikuler sekitar 52% - 68% dari seluruh kista yang ditemukan di rahang. Lokasi kista radikuler lebih sering terjadi pada rahang atas (maksila) sekitar 60% terut

Gambaran Radiograf Dentigerous Cyst atau Kista Dentigerous

Gambar
Gambaran Radiograf Kista Dentigerous atau Dentigerous Cyst (sumber gambar :  White, S., C., Pharoah, M., J. 2019  Oral Radiology Principles and Interpretations.  8th ed. St. Louis, Missouri: Elsevier Mosby) GAMBARAN UMUM Kista dentigerous mempunyai nama lain kista folikular Termasuk pada jenis kista odontogenik Kista ini dapat terjadi di semua usia, akan tetapi sebagian besar terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, lebih sering pada laki-laki dibandingkan perempuan Kista dentigerous terbentuk pada area mahkota gigi yang belum erupsi, Etiologi kista dentigerous berasal dari perkembangan folikel gigi, kista mulai terbentuk pada saat cairan berkumpul di lapisan epitel dari email yang tereduksi atau diantara epitel dan mahkota gigi yang belum erupsi GAMBARAN KLINIS  Kista dentigerous biasanya tidak menimbulkan gejala atau  asymptomatic Kista dentigerous merupakan kista kedua yang ering terjadi pada rahang Pada pemeriksaan klinis umumnya berkaitan dengan gigi yang hilang atau gigi yang tida

Gambaran Radiograf Residual Cyst atau Kista Residual

Gambar
Gambaran Radiograf Panoramik Kista Residual atau Residual Cyst ( sumber gambar : Kumar, N., Alchaar, N. A Large Residual Cyst Associated with Mandible: A Case Report and Literature Review. Journal of Medical Science and Clinical Research. 2019;07(04) p525-528) MEKANISME PENYAKIT Kista residual adalah kista yang berkembang setelah dilakukannya pengangkatan epitel yang tidak sempurna dari kista sebelumnya. Misal sebelumnya terdapat gigi nekrosis, pada bagian periapikal gigi nekrosis tersebut terdapat kista radikular, kemudian gigi yang nekrosis tersebut dilakukan pencabutan, tapi kista radikular pada bagian periapikal tidak diangkat atau dibersihkan secara sempurna, maka akan tumbuh kista residual. GAMBARAN KLINIS  Kista residual biasanya tidak menimbulkan gejala atau asymptomatic Secara radiograf sering ditemukan pada pemeriksaan daerah edentulous Jika tidak segera teridentifikasi kista tersebut dapat membesar Kista residual dapat menimbulkan infeksi sekunder Infeksi sekunder yang ditim

Dosis Efektif Radiasi Pemeriksaan Radiologi Kedokteran Gigi

Gambar
Mengingat radiasi sinar-x memiliki efek yang berbahaya untuk tubuh makhluk hidup terutama manusia, maka dalam pemanfaatannya untuk keperluan pemeriksaan radiologi di bidang kedokteran gigi perlu adanya acuan dosis efektif atau effective dose.  Salah satu tujuannya agar dosis yang diberikan efektif untuk pemeriksaan, menghasilkan gambaran pencitraan (imaging) yang diharapkan, namun dosisnya tetap aman untuk tubuh manusia. Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir No. 4 Tahun 2013 tentang Proteksi dan Keselamatan Radiasi Dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir Pasal 1 ayat 20 menyebutkan bahwa pengertian dosis efektif adalah besaran dosis yang khusus digunakan dalam proteksi radiasi untuk mencerminkan risiko terkait dosis, yang nilainya adalah jumlah perkalian dosis ekivalen yang diterima jaringan dengan faktor bobot jaringan Rumus Dosis Efektif Radiasi TABEL DOSIS EFEKTIF RADIASI PADA PEMERIKSAAN RADIOLOGI KEDOKTERAN GIGI Jenis Pemeriksaan Sinar X Dosis Efektif (E)(mSv) Bitewing dan

Interpretasi Radiografi Gigi Impaksi Molar Tiga Rahang Bawah (Bagian 2)

Gambar
Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya dengan judul "Interpretasi Radiograf Gigi Impaksi Molar Tiga Rahang Bawah (Bagian 1)" bagi anda yang ingin membaca artikel sebelumnya silahkan klik disini G. Hubungan Akar Gigi atau Apikal dengan Kanalis Mandibula Dokter gigi atau ahli bedah harus mempertimbangkan hubungan kondisi gigi yang impaksi dengan canalis mandibula. Seringkali posisi gigi molar tiga rahang bawah yang mengalami impaksi berdekatan, bersinggungan, atau bahkan menembus kanalis mandibula. Hal tersebut perlu menjadi perhatian serius dokter gigi atau ahli bedah yang akan melakukan tindakan operasi pencabutan, mengingat kanalis mandibula adalah bagian yang cukup penting untuk mendukung sistem organ manusia.  Mencegah terjadinya cedera kanalis mandibula yang disebabkan oleh tindakan pencabutan gigi molar tiga rahang bawah yang mengalami impkasi, seorang dokter gigi atau ahli bedah perlu keterampilan untuk membaca hasil radiograf. Apabila dokter atau ahli

Interpretasi Radiografi Gigi Impaksi Molar Tiga Rahang Bawah (Bagian 1)

Gambar
Radiograf Panoramik Memperlihatkan Indikasi Impaksi Pada Gigi 38 (sumber gambar : koleksi pribadi) Gejala klinis yang disebabkan oleh gigi molar tiga rahang bawah yang mengalami impaksi, pada umunya dilakukan penatalaksanaan dengan pencabutan atau ekstraksi. Akan tetapi pencabutan gigi molar ketiga yang mengalami impaksi, memiliki tingkat kesulitan yang relatif lebih tinggi. Sebelum dilakukan pencabutan biasanya operator akan meminta pasien untuk melakukan pengambilan foto radiograf terlebih dahulu, tujuannya untuk mengetahui posisi dan kondisi gigi serta jaringan disekitarnya. A. Teknik Radiografi yang Dapat Digunakan Periapikal Panoramic Oblique lateral atau bimolars Cone Beam Computed Tomography (CBCT) . Kelebihan CBCT memiliki akurasi yang lebih baik dibandingkan teknik radiografi dua dimensi (2D), selain itu CBCT dapat menganalisa lebih akurat hubungan antara gigi impaksi dengan anatomi atau jaringan sekitarnya, karena CBCT memberikan gambaran dari berbagai sudut pandang seperti b

Dokter Gigi di Garis Depan Penanganan Bencana Alam Gempa Bumi Cianjur

Gambar
Tim Radiologi Forensik Kedokteran Gigi (Sumber gambar : koleksi pribadi) Oleh : drg. Gelar S. Ramdhani GEMPA CIANJUR MENYISAKAN DUKA MENDALAM Menjelang akhir tahun 2022 bencana alam gempa bumi berkekuatan 5,6 Skala Richter dengan kedalaman 10 Km melanda Indonesia, tepatnya atau pusatnya di Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Menurut beberapa sumber yang telah saya baca, gempa bumi tersebut terasa hingga wilayah Bandung, Sumedang, Majalengka, Garut, Subang, Purwakarta, Karawang, Jabodetabek, Provinsi Banten, bahkan hingga ke Provinsi Lampung. Gempa Bumi Cianjur (Sumber gambar : awsimages.detik.net.id) Gempa Cianjur menyisakan duka yang mendalam, menurut konferensi pers yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) update Selasa, 29 November 2022 korban meninggal dunia sejumlah 327 orang, 13 orang masih belum ditemukan, puluhan orang masih menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami luka-luka, dan lebih dari 100.000 orang terpaksa harus mengungsi. Bagi masyarakat In

Perbandingan Radiografi Periapikal Paralel dan Bisektris

Gambar
Teknik Radiografi Periapikal Paralel (sumber gambar : Whaites, E., Drage, N. 2013.  Essentials of Dental Radiography and Radiology . 5th edition. Elsevier Churchill Livingstone, p.92) Berikut perbandingan radiografi periapikal paralel dan bisektris (Whaites, 2013) KELEBIHAN TEKNIK RADIOGRAFI  PERIAPIKAL  PARALEL ( Advantages of the paralleling technique) Secara geometris gambar yang dihasilkan akurat, dengan pembesaran kecil. Bayangan dinding zygomatic muncul diatas apikal gigi molar. Gambaran ketinggian tulang alveolar yang merupakan bagian dari jaringan periodontal, dapat terlihat dengan baik. Jaringan periapikal dapat terlihat lebih akurat dengan minimal foreshortening  atau elongasi. Mahkota gigi dapat terlihat lebih jelas, sehingga dapat mendeteksi adanya karies pada bagian aproksimal. Apabila pemasangan perangkat paralel (film holder, locator ring, etc) dilakukan dengan benar, maka sudut horizontal dan vertikal dari tubehead sinar-X akan otomatis sejajar. Sinar-X diarahkan secara