Ekosistem Ekonomi Kreatif Majalengka

Diskusi Membahas Ekosistem Ekonomi Kreatif Majalengka (sumber gambar: Kiki Aiman Malik)

Oleh: Gelar S. Ramdhani

Malam tadi (Rabu, 24 Oktober 2019) saya diundang ke Kedai Kopi Roakrak sebuah tempat ngopi di Kota Majalengka, oleh salah satu seniman Majalengka, yaitu Vedi Sumantri atau saya lebih akrab memanggil beliau om Vedi. Jujur saja awalnya saya mengira om Vedi mengundang saya ke tempat ngopi, hanya untuk ngopi-ngopi biasa saja.

Kurang lebih pukul 20.00 WIB, saya bersama Kang Kiki Aiman Malik, tiba di kedai kopi tersebut. Saya baru sadar, dalam hati "ieu lain acara biasa" (Ini bukan acara biasa) kenapa saya dalam hati mengucapkan kalimat seperti itu? karena di kedai kopi tersebut sudah hadir beberapa tokoh pemuda Majalengka yang saya kenal seperti Kang Dhany (Kabid Kepemudaan Dinas Pemuda dan Olahraga Kab. Majalengka), Pak Camat Argapura, Kang Ivan (Owner Seblak Ceker Naga), dan juga beberapa tokoh pemuda lainnya, yang secara visual saya kenal tapi saya lupa lagi namanya, intinya yang hadir pada malam tadi adalah para pemuda hebat Majalengka.

Sampai di dalam kedai, Kang Ivan mempersilahkan saya duduk, saya duduk dan mencoba beradaptasi dengan forum tersebut. Waktu itu di forum tersebut sedang ada seorang pria yang berbicara panjang lebar membahas ekosistem ekonomi kreatif Majalengka. Begitu saya duduk, saya langsung mendengarkan pria tersebut berbicara, saya dengarkan baik-baik, saya pahami kata per kata, kalimat per kalimat, semakin saya dengarkan dalam hati "wahh... ieu nu diomongkeun ku jalma ieu, loba nu sapamikiran jeung uing!" (wahh... ini yang diomongin orang ini, beberapa banyak yang satu pemikiran dengan saya!).

Tak lama kemudian saya mulai mendapatkan identitas pria yang sedang berbicara di depan tersebut, rupanya beliau adalah Pak Ginggi, beliau adalah salah satu tokoh Jatiwangi Art Factory (JAF). Beberapa pendapat beliau yang saya setuju adalah "Kita belum sepenuhnya bangga dengan nama kampung halaman kita (Majalengka), karena memang kita (Majalengka) belum sepenuhnya menjadi apa-apa, atau belum menjadi siapa-siapa".

Memang betul sekali, saat ini banyak masyarakat Majalengka (bahkan mungkin termasuk saya) yang belum sepenuhnya bangga dengan Majalengka, contohnya ketika kita pergi ke daerah lain sadar atau tidak, dalam hati kita belum sepenuhnya bangga/tegas menyebut "saya dari Majalengka!" karena Majalengka belum bisa membanggakan sepenuhnya, alasan lain kita belum tegas menyebut "saya dari Majalengka!" sebab lawan bicara kita sering kali tidak tahu Majalengka itu dimana?.

Lalu tanggung jawab siapa agar Majalengka bisa membanggakan? Ya tanggung jawab siapa lagi kalau bukan tanggung jawab kita?. Betul sekali, kita semua bertanggung jawab membangun citra Majalengka yang lebih baik, tentunya dalam hal yang positif. Apabila citra Majalengka baik, dikenal banyak orang karena hal-hal yang positif maka nama Majalengka itu akan membuat kita bangga. Bangga sebagai warga Majalengka!

Dunia sudah tahu, bahwa Majalengka yang 10 atau 20 tahun yang lalu tidak punya infrastruktur apa-apa, tapi sekarang infrastruktur besar nasional hadir di Majalengka, seperti jalan Tol Trans Jawa (Tol Cipali) dan juga Bandara Kertajati (BIJB). Apakah dengan modal itu saja kita semua bisa maju? tentu tidak! Terbukti dari Bandara Kertajati yang beberapa waktu lalu diberitakan oleh media, disebut sebagai bandara sepi!

Wajar saja Bandara Kertajati sepi penumpang, menurut hemat saya salah satu penyebab sepinya Bandara Kertajati adalah "Kalau orang luar mau terbang ke Majalengka, mau ngapain?" alias belum banyak alasan orang luar terbang ke Majalengka. Orang luar negeri terbang ke Bali ke Lombok misalnya, jelas ada tujuan yaitu wisata. Sedangkan ke Majalengka?

Bicara tentang Bali, saya ingin kembali lagi ke pembicaraan Pak Ginggi malam tadi. Menurut beliau, Bali itu sudah terbangun sejak lama ekosistem ekonomi kreatifnya, sehingga orang luar, baik dari dalam maupun luar negeri berbondong-bondong datang ke Bali karena sebuah alasan yaitu wisata, dan salah satu menu pariwisata yang disuguhkan disana adalah ekonomi kreatif.

Majalengka pun kalau menurut saya jangan hanya berpuas diri menjual wisata alam saja, karena kalau hanya sekedar wisata alam, kabupaten lain juga menjual "barang" yang sama, bahkan -mungkin- banyak kabupaten lain yang jauh lebih indah dan menarik. Sudah saatnya Majalengka berfikir membangun ekosistem ekonomi kreatif, kalau ekosistem ekonomi kreatif sudah terbangun di Majalengka, saya yakin akan terjadi peningkatan ekonomi masyarakat.

Contohnya begini, warga dunia mengenal Majalengka sebagai kota kreatif, sehingga orang luar (bahkan wisatawan mancanegara) banyak yang datang ke Majalengka, mereka bawa uang (devisa), mereka akan belanja hasil industri kreatif di Majalengka, misalnya saja di Majalengka ada pengrajin batik khas Majalengka. Pasti mereka beli batik khas Majalengka.

Nah.. kalau sekarang kita baru sibuk dengan slogan-slogan "Mari kita tingkatkan produktivitas UMKM Majalengka" tapi belum sibuk dengan slogan-slogan "Hayu datangkan wisatawan ke Majalengka, agar membeli produk UMKM Majalengka".

Bagaimana cara mendatangkan wisatawannya? ya tadi bangun citra ekosistem ekonomi kreatif yang baik, agar meraka punya alasan untuk datang ke Majalengka.

Simak pula tulisan Gelar S. Ramdhani lainnya klik disini
Apakah anda ingin mengetahui profil penulis tulisan ini? klik disini

Komentar

Tulisan paling populer

Klasifikasi Maloklusi Angle dan Dewey

Klasifikasi Karies Menurut GV Black

Rekomendasi Bus dari Jakarta ke Majalengka