Minangkabau adalah Pancasila, Pancasila adalah Minangkabau

Minangkabau kaya akan filosofi kehidupan (sumber gambar: arsitag.com)

Oleh: Gelar S. Ramdhani*

Saya sangat bersyukur dan sangat bangga, selama kurang lebih 4 tahun pernah tinggal di Sumatera Barat. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari Ranah Minang, untuk bekal kehidupan saya.

Selama saya di Sumatera Barat saya termasuk orang yang aktif, senang jalan-jalan, senang bertemu orang-orang baru, senang mencari hal-hal baru, dan senang bersosialisasi dengan kalangan manapun, karena dengan cara seperti itu saya merasa lebih cepat memahami kehidupan masyarakat Sumatera Barat khususnya masyarakat Minangkabau.

Kalau saat ini ada yang bertanya kepada saya, "Daerah mana di Indonesia yang paling cocok untuk dijadikan tempat belajar tentang Pancasila?" saya jawab "Sumatera Barat!" Lah kok bisa?.

Saya menjadi saksi bahwa masyarakat Sumatera Barat itu, dalam menjalani hidup dan kehidupannya sangat berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila.

Misalnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam urusan agama, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, dan saya merasakan dengan hati saya sendiri bahwa ketaatan masyarakat Sumatera Barat terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak perlu diragukan lagi. Dalam hal agama, meskipun Minangkabau ini terkenal dengan adatnya yang kuat, tapi antara adat dengan agama ada pilar-pilar khusus yang tidak boleh dilanggar yaitu "Adaik basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah".

Masyarakat Sumatera Barat ini sangat toleran terhadap agama dan kepercayaan manapun. Misalnya saja di Kota Padang, banyak gereja yang berdampingan dengan mesjid, masing-masing jama'ahnya saling menghormati. Termasuk saya sendiri selama tinggal di Kota Padang, banyak sahabat-sahabat saya yang non muslim, mereka sangat baik terhadap saya, saya pun hormat terhadap mereka, kita semua bersaudara.

Kemudian sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab masyarakat Minangkabau memiliki falsafah hidup yaitu Maukua samo panjang, mambilai samo laweh, falsafah tersebut mengajarkan kepada kita untuk hidup adil terhadap sesama manusia, dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan (solidaritas).

Saya merasakan sendiri, selama 4 tahun di Sumatera Barat, meskipun saya perantau asal Jawa Barat (Sunda) tapi saya tidak pernah sekalipun diperlakukan tidak adil oleh masyarakat disana. Masyarakat Sumatera Barat khususnya Minangkabau sangat menjunjung tinggi keadilan dan menghargai perbedaan, maka tak heran ketika mereka merantau ke luar Sumatera Barat, masyarakat Minangkabau selalu mudah beradaptasi dan mudah diterima daerah tempat mereka merantau.

Sila ketiga Persatuan Indonesia selama saya tinggal di Sumatera Barat saya mempunyai organisasi atau komunitas yang bernama Paguyuban Warga Sunda (PWS), sebuah wadah yang menyatukan warga Sunda yang merantau di Sumatera Barat. Salah satu kegiatan PWS adalah ngamumule (melestarikan) dan mempertahankan seni dan budaya Sunda. 

Ketika kami warga Sunda mengekspresikan diri melalui pentas seni dan budaya Sunda, kami tidak pernah mendapatkan sesuatu yang tidak kami harapkan. Justru sebaliknya, kami merasa sangat dihargai dan sangat diapresiasi, sering sekali kami diundang untuk melakukan pentas seni, dihadapan komunitas masyarakat Minangkabau. Kami sering Mendapatkan undangan dari masyarakat secara pribadi (misal dalam pesta pernikahan) bahkan kami juga sering diundang oleh pemerintah, baik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat maupun Pemerintah Kabupaten Kota yang ada di Sumatera Barat.

Dalam hal suku, seni, dan budaya. Saya merasakan Sunda itu sangat dihargai dan dihormati oleh Minangkabau, begitupun sebaliknya kami warga Sunda sangat menghargai Minangkabau. Bahkan tidak jarang diantara kami (masyarakat Sunda dan Minang) banyak yang tumbuh benih-benih cinta, hingga pada akhirnya bermuara bahagia di pelaminan.

Kota Padang sendiri menurut saya sangat heterogen, terdiri dari banyak suku bangsa, bukan hanya Minangkabau, ada juga Sunda, Jawa, Nias, Batak, Tionghoa, Arab, India, Melayu, Aceh, dan lain sebagainya.

Sila keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan Menurut saya salah satu kelebihan orang Minangkabau itu dalam menentukan sesuatu, selalu penuh perhitungan matang.

Perhitungan yang matang selalu dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dalam menentukan suatu keputusan terutama keputusan-keputusan strategis, biasanya perhitungan yang matang dilakukan melui musyawarah yang melibatkan Tigo Tungku Sajarangan yang terdiri dari Ninik Mamak (Tokoh Adat), Alim Ulama (Tokoh Agama), dan Cadiak Pandai (Intelektual).

Tiga unsur kepemimpinan ini selalu dilibatkan dalam musyawarah masyarakat Minangkabau, hal tersebut dilakukan untuk mendengar dari berbagai sudut pandang, dengan harapan keputusan yang diambil dinyatakan sesuai dari sudut pandang Agama, Adat, dan juga Ilmu Pengetahuan (tidak bertentangan).

Atau kebijakan yang diambil menghasilkan kebijakan yang Lamak di Awak, Katuju di Urang.

Sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Menurut saya orang Sumatera Barat itu sangat dermawan, sangat peduli terhadap sesama yang membutuhkan, khususnya bagi saudara-saudara kita yatim dan dhuafa. Apa buktinya? kalau anda pergi ke Sumatera Barat silahkan singgah ke mesjid, perhatikan kotak amal yang terdapat di mesjid-mesjid di Sumatera Barat.

Kotak amal mesjid di Sumatera Barat biasanya terbuat dari kaca, sehingga bagian dalamnya terlihat dari luar, kemudian dirancang khusus, tengahnya terdapat sekat untuk memisahkan uang untuk operasional mesjid dan untuk fakir miskin atau yatim. Hal tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa mesjid-mesjid di Sumatera Barat, ikut memperhatikan saudara-saudara kita yatim dan dhuafa. Hal tersebut sebagai bentuk perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kesimpulan
Dulu ketika saya belum pernah merasakan hidup di Sumatera Barat, saya sering bertanya-tanya, "Kenapa banyak sekali tokoh-tokoh asal Sumatera Barat yang berpengaruh dan berperan besar dalam berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini?". Bung Hatta, Imam Bonjol, Buya Hamka, H. Agus Salim, Sutan Syahrir, Tan Malaka, HR. Rasuna Said, M. Yamin, dsb mereka adalah tokoh besar bangsa ini asal Minangkabau Sumatera Barat.

Bahkan kalau saya perhatikan mulai Presiden Soekarno, hingga sekarang Presiden Joko Widodo, orang Minangkabau itu selalu ada perwakilan di kabinet.

Setelah saya merasakan hidup dan belajar di Sumatera Barat, akhirnya saya tertuju kepada sebuah pemahaman bahwa Sumatera Barat adalah salah satu inkubator Pancasila terbaik di negeri ini.

*Penulis adalah Dokter Gigi, Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah

Komentar

Tulisan paling populer

Kenapa Saat Sakit Gigi Tidak Boleh Cabut Gigi?

Mau Tahu Biaya Cabut Gigi di Dokter Gigi? Baca Ini!

Minum Amoxicillin Sembarangan Saat Sakit Gigi, Bahaya!