Konspirasi ANA(radio)LOGI

Oleh : Gelar S. Ramdhani

Chapter I : RGB CMYK

Dengan penuh rasa angkuh mereka berkata "Dunia ini penuh warna, maka nikmatilah!". Aku adalah orang yang tidak terlalu peduli dengan kalimat angkuh tersebut. Bagiku jutaan warna yang ada di dunia ini sebenarnya hanya ilusi mata, atau mungkin hanya pencampuran dua warna atau lebih.

Aku belajar dari filosofi warna RGB dan CMYK, inti pencampuran warna RGB adalah putih, sedangkan inti dari pencampuran warna CMYK adalah hitam.

A Diagram on additive and subtractive colors
(sumber gambar : focusbox.net)

Sehebat apapun anda melakukan manipulasi warna RGB ujungnya adalah putih, dan sehebat apapun anda memanipulasi warna CMYK ujungnya adalah hitam.

Bolehkah aku menyebut putih sebagai kehidupan (lahir), sedangkan hitam aku sebut sebagai kematian?

Sebanyak apapun warna kehidupan yang kita dapatkan, kita rasakan, dan kita mainkan, semua berawal dari kehidupan kemudian berakhir dengan kematian.

Artinya sehebat apapaun anda hidup, anda harus selalu ingat hitam dan putih, selalu ingat kehidupan dan kematian. Hitam dan putih jauh lebih pasti dibandingkan dengan warna-warni yang terkadang menipu.

Chapter II : Batasan Mata & Rasa Sang Dokter!

Seorang dokter terkadang ragu menentukan diagnosa suatu penyakit, seorang dokter gigi juga kadang ragu saat akan melakukan pencabutan gigi atau mungkin perawatan endodonti. Kenapa ragu?

Sebab mata sang dokter tidak bisa melihat apa yang tidak bisa dilihatnya. Tuhan, menciptakan radiologi, untuk membantu dokter dalam menolong sesama manusia. Radiologi adalah ilmu yang bagi sebagian orang mungkin tidak terlalu menarik karena tidak terlalu kaya akan warna. 

Bahkan pernah suatu hari dalam sebuah canda di warung kampus, sahabatku berkelakar "apaan radiologi isinya hanya hitam (radiolucent) dan putih (radiopaque)?"

Tapi bagiku, radiologi lebih dari sekedar itu. Tuhan menciptakan ilmu radiologi, saat Tuhan ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa pandangan kita sangat terbatas.

Chapter III : Tidak Ada Namun Ada

Di dunia ini menurutku semuanya tidak ada, menjadi ada ketika kita ada, dan keberadaan kita untuk berfikir menjadikan yang tidak ada menjadi ada.

Descrartes seorang filsuf dari Prancis pernah berkata "Cogito ergo sum" atau "Aku berfikir maka aku ada". Wilhelm Conrad Roentgen berfikir bagaimana mencitrakan sesuatu yang maya menjadi nyata.

Ada adalah hasil pemikiran, yang dituangkan kedalam sebuah tindakan.

Chapter IV : Learning From Failure

Seorang tokoh Amerika Serikat Colin Powell pernah berkata "Success is the result of perfection, hard work, learning from failure, loyalty, and persistence" dari pepatah tersebut aku paling suka dengan kalimat "learning from failure".

Jika ada seorang penulis yang mau menulis tentang kehidupan aku selama ini, mungkin karya tulisnya tidak akan laku, sebab kisah hidupku selama ini banyak sekali kegagalan dan luka masa lalu.

Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk hidup, artinya aku masih diberikan kesempatan untuk belajar (belajar dari kegagalan), mungkin bukan kesempatan untuk berhasil, karena berhasil adalah hasil, sedangkan belajar adalah tujuan.

Bagiku hasil adalah bonus dari tujuan! Jika suatu saat nanti aku mengajak kamu naik gunung, puncak bukan tujuan, puncak hanyalah bonus dari tujuan kita, tujuan kita naik gunung adalah berdua bersama kamu untuk saling menguatkan.

Chapter V : End Game

Pepatah Jawa yang paling aku suka adalah "Urip iku mung sawang sinawang" terkadang kita menganggap orang lain lebih bahagia daripada kita, padahal belum tentu.

Beberapa pasien menganggap aku seorang dokter yang jago nambal, jago nyabut, jago ini jago itu. Padahal kenyataannya aku hanyalah dokter biasa, tidak jarang aku berhadapan dengan kesulitan saat aku menjadi pelayan masyarakat.

Aku punya pengalaman, suatu hari datang seorang pasien laki-laki berusia 62 tahun, datang dengan keluhan ingin mencabut gigi geraham bawah kiri, kondisi klinis terlihat sisa akar pada gigi yang dimaksud (sudah tidak ada mahkota), hasil anamnesa dan pemeriksaan penunjang tidak ada kontraindikasi untuk dilakukan pencabutan. Dalam hati aku bergumam "ini mudah!".

Sesuatu yang sebelumnya aku anggap mudah, ternyata butuh upaya hitungan jam untuk mengeluarkan gigi pasien tersebut.

Setelah pasien pulang, aku bertanya kepada rekan kerjaku "Kenapa ya tadi susah sekali ngeluarin giginya? padahal sisa akar".

Rekan kerjaku yang sudah lebih dari 1,5 tahun mendampingiku berkata "Tadi tidak dironsen dulu ya dok?".

Iya, karena aku terlalu percaya diri, terlalu menganggap enteng apa yang kita lihat, ternyata ada sesuatu yang tidak terlihat yang bisa mempersulit apa yang kita lakukan.

Learning from failure, memilih radiologi bukan jalan untuk mencari warna, tapi untuk mencari sesuatu yang menurut orang lain sulit dicari, karena (mungkin) orang lain terlalu sibuk dengan warna-warna (pseudo)

Cekungan Bandung, 10 Juli 2021

Komentar

Tulisan paling populer

Klasifikasi Maloklusi Angle dan Dewey

Tips Pemeriksaan Kesehatan Gigi Seleksi TNI Polri

Klasifikasi Karies Menurut GV Black